Antisipasi Virus Hog Cholera Pada Ternak Babi, Pemkab Dairi Bentuk Tim Gabungan

Ternak babi mati yang terserang virus Hog Cholera.

Dairi, sahabatmarhaen.com

Kematian ternak babi skala besar dalam beberapa minggu ini membuat keresahan di tengah-tengah masyarakat di Kabupaten Dairi. Pasalnya telah menimbulkan kerugian cukup besar bagi para peternak babi.

Sehubungan dengan keresahan masyarakat, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Dairi membentuk tim gabungan lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang terdiri dari, Dinas Pertanian, Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas PUPR, Satuan Polisi Pamong Praja, BPBD dan Camat Se-Kabupaten Dairi untuk mengantisipasi hal tersebut.

Bahwa telah terjadi serangan wabah penyakit ternak babi di 13 kecamatan di Kabupaten Dairi, kematian ternak disebabkan serangan virus Hog Cholera berdasarkan pemeriksaan 12 sampel yang diperiksa oleh Balai Viteriner Regional 1 Medan.

“Hasil pemeriksaan 3 sampel dinyatakan positif Hog Cholera dan 9 sampel maasih dalam proses pemeriksaan lanjutan sebagai suspect ASF (African Swine Fever),”kata Koordinator tim gabungan lintas OPD, Posmatua Manurung saat pelaksanaan press release penyakit ternak babi di Kantor Dinas Lingkungan Hidup jalan Merdeka, Kecamatan Sidikalang, Jumat (18/10/2019) sore.

Disebutkan Posmatua, virus ini telah menyerang beberapa negara di kawasan asia tenggara, antara lain China, Thailand, Filipina, Vietnam, Korea Utara dan Timor Leste. Di Indonesia dapat dijelaskan, bahwa virus ini telah menyerang Sumatera Utara, yakni Medan, Deli Serdang, Humbanghasudutan, Tobasa, Samosir, Tapanuli Utara dan Dairi

Di Kabupaten Dairi, serangan virus  ini pertama kali diketahui setelah satu orang peternak di Kecamatan Sidikalang melaporkan ternak babinya banyak yang mati.

“Penyebaran virus ini diduga bersumber dari ternak yang masuk melalui transaksi jual beli ternak babi dari luar daerah Kabupaten Dairi,”ujar Posmatua.

Untuk itu, Pemkab Dairi saat ini telah melakukan tindakan preventif dan penanggulangan ditengah masyarakat. Adapun tindakan-tindakan yang dilakukan dalam hal ini Dinas Pertanian akan melaksanakan, peningkatan biosecurity/pencegahan dengan desinfeksi kandang ternak dan vaksinasi.

Melakukan pengambilan sampel darah dan organ untuk pemeriksaan laboratorium oleh Balai Veteriner Regional 1 Medan. Melakukan Investigasi penyakit bersama Dinas Ketahanan Pangan Peternakan Povinsi Sumatera Utara, Direktoral Jenderal Peternakan Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian dan balai Veteriner Regional 1 Medan.

Melakukan himbauan kepada masyarakat melalui surat edaran kepada Camat se-Kabupaten Dairi untuk diteruskan kepada Lurah dan Kepala Desa. Melakukan himbauan melalui media sosial, pers dan radio. Melaksanakan sosialisasi bersama lembaga/asosiasi yang bergerak di bidang pertanian dan peternakan.

“Selain itu akan melaksanakan pembagian desinfektan, obat dan vaksin kepada peternak yang melaporkan kejadiannya di Dinas Pertanian Kabupaten Dairi,”sebut Posmatua.

Menurut Posmatua,  bahwa  ciri-ciri ternak yang terserang virus Hog Cholera memiliki gejala, Tidak mau makan. Panas/demam tinggi. Seluruh tubuh terdapat bintik warnah merah keunguan terutama pada daerah telinga, leher dan abdomen. Pendarahan dari lubang hidung, anus dan telingga.

“Ternak yang terserang virus Hog Cholera tingkat kematian mencapai 100 persen,”ungkapnya

Lanjut Posmatua, berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pertanian melalui Petugas Penyulu Lapanga (PPL) sebanyak 1004 ekor ternak babi telah mati pertanggal 17 Oktober 2019.

Untuk menekan dan menimalisir perkembangan dan penyebaran wabah penyakit dihimbau kepada seluruh masyarakat Kabupaten Dairi, agar melaporkan kasus penyakit ternak ke Pemerintah Kabupaten Dairi melalui Dinas Pertanian. Melakukan pembersihan dan penyemprotan kandang ternak dengan desinfektan.

Membatasi arus kegiatan lalulintas antara para peternak, ternak, pakan ternak, peralatan pada daerah yang telah terinfeksi. Melaksanakan sanitasi (menjaga kebersihan tubuh peternak yang melakukan kontak langsung dengan ternak).

Dilarang membuang bangkai ternak babi ke aliran sungai maupun di tempat terbuka dan harus menguburkan dengan baik. Bagi peternak yang tidak memiliki lahan untuk mengubur bangkai ternak dapat melaporkan ke Pemerintah Kabupate Dairi melalui Dinas Lingkungan Hidup.

“Penyakit yang menyerang ternak babi pada saat ini merupakan penyakit yang tidak zoonosis (tidak dapat menular ke manusia atau sebaliknya),”terang Posmatua. (fjr)

Sahabat Marhaen

Read Previous

DR Eddy Keleng Ate Berutu Berharap BNN Bisa Terbentuk Di Kabupaten Dairi

Read Next

Warga Desa Jumantuang Syukuran Dan Berdoa Bersama Untuk Pelantikan Joko Widodo-Maruf Amin

Leave a Reply

error: Content is protected !!